Mari kita mulai degan pengalaman pertama
(dilarang berpikir jorok!). Suatu hari saya mengunjungi salah satu tempat
nongkrong beken di jalan Adityawarman. Yang orang Surabaya pasti tahu betul
tempat ini. Setelah berputar-putar tanpa tujuan, akhirnya saya kebelet juga. Maka
saya melenggang ke toilet untuk melepas rasa kebelet tersebut.
Saat itu keadaan toilet sepi. Hanya ada
petugas kebersihan yang asyik bergumul dengan kain lapnya. Pintu di bilik-bilik
toilet umum kebanyakan selalu tertutup. Memaksa saya harus memelototi tanda
merah-hijau di dekat pegangan pintu. Hanya saja terkadang tanda tersebut tidak
valid. Kadang hijau tapi pintu tetap tidak bergeming saat kita coba membukanya,
itulah negeri kita tercinta. Berbekal pengetahuan tersebut, saya biasa mencoba
mendorong setiap pintu bilik satu per satu. Pokoknya kalau terbuka ya berarti
empty alias kosong tidak ada penghuni.
Jadi mulailah saya beraksi. Dorongan
pertama di pintu pertama di sebelah kiri, tanpa hasil, Dorongan kedua di pintu
pertama di sebelah kanan, tanpa hasil. Dorongan kedua di sebelah kiri, juga
nol. Padahal toilet ini sepi, sungguh aneh. Akhirnya saya sampai di pintu
paling pojok di sebelah kanan. Bilik ini adalah yang paling besar, berarti
dikhususkan untuk pengunjung yang berkursi roda atau memakai alat bantu
lainnya. Berhubung semua pintu bilik tertutup rapat, akhirnya saya nekat
mendorong pintu terakhir dan voila! It opens!
What happen next is really shocking! Saat
pintu mulai terbuka saya melihat sekelebat bayangan. Oke, bukan bayangan tapi
benda hidup. Bulat, kembar, tertutup kain celana setengah melorot. Oh noooo!!!
Dengan gerakan secepat kilat tapi tanpa suara, saya tutup kembali pintu bilik
itu dan mencari pintu lain. Syukurlah penghuni bilik sebelah keluar, dan saya
pun masuk menjadi penghuni berikutnya dengan tanpa henti menghela napas dan
geleng-geleng kepala. Kok ada ya orang dengan santainya “beraktifitas” di
toilet umum tanpa mengunci pintu?! Yang memergoki syok, apalagi yang dipergoki.
Yang lebih hebat lagi, orang tersebut tidak tahu bahwa saya baru saja mencoba
memasuki area terlarangnya. Sayangnya saya tidak cukup cepat untuk melihat
siapa tersangka utama pemilik “benda-benda” yang saya pergoki barusan.
Pengalaman kedua terjadi di toilet umum
wanita di salah satu mal di daerah Basuki Rahmat. Waktu itu saya hendak
menonton film di bioskop mal tersebut. Ritual yang biasa saya lakukan adalah
toilet before movie. Berhubung film yang saya akan tonton cukup booming, maka
demikian juga antrian di toilet ikutan booming. Biasalah, wanitaaaa…
Saya pun mengantri. Akhirnya saya tiba di
antrian paling depan, tepat di depan pintu bilik salah satu toilet. Pintu bilik
di toilet ini berbingkai kayu dengan dua kaca yang foggy, buram atau apalah
istilahnya. Jadi meskipun kaca, pengunjung di luar tidak bakal bisa menerawang
apa isi bilik tersebut. Tapi rupanya ada satu hal yang dilupakan oleh penghuni
di dalam bilik yang sedang saya tunggu-tunggu untuk keluar. Foggy glass ini
memang buram, tapi kalau kita coba menempelkan telapak tangan, orang yang
berada di sisi berlawanan akan bisa melihat dengan jelas bentuk telapak tangan
kita.
Hal inilah yang dilupakan cewek di dalam
bilik. Kita tahu kalau tidak ada bilik yang cukup luas sehingga anda bisa
“pencilakan” sesuka hati, kecuali bilik toilet untuk handicapped person yang
saya ceritakan sebelumnya. Memang ruangnya sempit dan terbatas, but enough-lah
kalau hanya untuk bergerak memelorot atau menaikkan celana. Jadilah cewek dalam
bilik ini membelakangi pintu untuk menyiram W.C. dan menaikkan tata letak celananya
. Masalahnya cewek tersebut terlalu dekaaaattt bahkan menempel di pintu. Plek!!
Oh em jiiiiii… Lagi-lagi saya melihat benda ini lagi di toilet! Why meee?!
Saya cuma bisa mesam mesem kata orang Jawa,
alias senyam-senyum sendiri. Entah pengunjung lain ikut melihat atraksi ini
atau tidak, yang pasti ini terjadi di depan mata kepala saya. Jadi semacam
acara pembuka sebelum film dimulai, haduhhh… Girls, please behave!
Itu mengapa judulnya peringatan keras bagi
kaum wanita. Wahai kaum hawa, meskipun yang berada di toilet itu sesama wanita
yang sama-sama punya harta benda yang sama, tetap saja menampilkan
“barang-barang” milik pribadi secara sengaja maupun tidak sengaja akan membuat
penonton “kelilipan”. Jadi berbekal pengalaman saya ini, harap para kaum wanita
lebih berhati-hati dalam bertingkah laku di toilet. OK, girls? :)