Hello! I'm back again. Sudah cukup lama ya sejak berita terakhir. Maklum sibuk memacul lahan demi segenggam cacing tanah dan berlian.
Menurut
saya, istilah rahasia umum itu sangatlah aneh dan sangat paradoks. Namanya
rahasia ya bukan hal yang bisa diketahui oleh khalayak umum. Tapi pengalaman
saya ini sangat bisa dijadikan contoh nyata.
Jadi begini
ceritanya, saya beberapa bulan lalu join dengan salah satu fitness club di
salah satu mall di salah satu kota di salah satu propinsi di Indonesia, ribet
kan? Tidak perlu dipikirkan. Di tempat gym seperti ini biasa disediakan locker
room, ruang ganti, toilet bahkan sauna tersendiri bagi kaum adam dan hawa.
Kebetulan hari itu saya pergi sendiri tak ada yang menemani (hiks..) untuk ikut
kelas yoga. Rutinitas saya selalu minta kunci locker, masuk locker room, ganti
kostum, siap beraksi.
Nah kebetulan
saat saya datang ada kelas yang baru selesai, jadi banyaklah orang berjubel di
locker room. Sehabis berganti kostum saya leha-leha dulu di depan locker saya
menanti kelas berikutnya mulai. Lalu datanglah mbak-mbak dari arah toilet
menuju ke locker tepat di sebelah saya duduk. Cerita saya berikut mungkin agak
vulgar, tapi the story must go on.
Grusuk grusuk...
OK first, only panties on, and the rest covered with towel held by hand. Yes,
held by hand only, not wrapping the whole upper body. Jadi wanita-wanita lain yang
disekitarnya pastilah dengan sangat bisa melihat her “private parts”. Me, of
course, cuma bisa duduk terganga. What’s just happened? Saat dinamakan private
parts alias bagian pribadi, ya must stay private, bukan untuk public. Tapi
berhubung kelas akan segera dimulai, saya cut kebengongan saya dengan segera
beranjak dari locker room.
One hour
later... I’m back to locker room. Saatnya mandi dan lagi-lagi another view.
Kali ini ada mbak yang berbeda duduk dengan manis di dekat locker saya (note:
head covered by towel, whole body covered too. No problem detected, yet!).
“Permisi,”
begitu saya ucapkan kepada mbak tersebut karena terbatasnya ruang gerak saya
dan membuat si mbak harus bergeser. Mbak tersebut berdiri, mengeluarkan
handphone and yes, selfie time! And I was like, what?! I mean, selfie berbalut
handuk?? Lalu si mbak membuka handuk di kepala, goyang-goyang kepala dikit,
duduk lagi and another click click... Mungkin saya yang terlalu ndeso atau kampungan, atau kepo,
whatever lah, tapi ini bikin saya bengong terus senyum-senyum sendiri dan
geleng-geleng kepala. Sambil mengantri kamar mandi, saya berpikir, tujuan orang
selfie jaman sekarang kan biar bisa upload ke sosmed, biar dunia luar tahu. Lha
kalau yang diupload foto macam begitu, gimana tanggapan dunia? Mana cuma berbalut
handuk dengan belahan dada yang mencuat ke permukaan. Tidak tahu lagi kalau
hanya sekedar melengkapi koleksi pribadi.
Banyak orang
yang mungkin tidak peduli dan tidak risih melakukan hal-hal tersebut, tapi
however ini masih tempat umum. My comment? Ya sutrahlahh, biarin aja, apa mau
dikata. Anjing menggonggong khafilah berlalu, dalam hal ini kayaknya saya yang
menggonggong, mereka yang berlalu. Good newsnya, saya jadi punya bahan cerita ^o^
I’ll be
writing another “incident”. Stay tune :)



