Wednesday, September 2, 2015

Saat Rahasia Pribadi Menjadi Rahasia Umum



Hello! I'm back again. Sudah cukup lama ya sejak berita terakhir. Maklum sibuk memacul lahan demi segenggam cacing tanah dan berlian.

http://www.publicschools.org/wp-content/uploads/2012/12/private-vs-public.jpgSo here I am telling stories seputar toilet dkk again. Saya kembali dan lagi-lagi heran kenapa pengalaman lucu, aneh ataupun seru selalu berkisar di daerah “sakral” ini. Apa ada aura-aura tertentu yang menyebabkannya, atau mungkin saya saja yang punya perhatian khusus terhadap hal-hal seputar kamar mandi? Tanyalah pada rumput tetangga yang bergoyang (karena rumput di rumah saya nyaris mati kekeringan).

Menurut saya, istilah rahasia umum itu sangatlah aneh dan sangat paradoks. Namanya rahasia ya bukan hal yang bisa diketahui oleh khalayak umum. Tapi pengalaman saya ini sangat bisa dijadikan contoh nyata.

Jadi begini ceritanya, saya beberapa bulan lalu join dengan salah satu fitness club di salah satu mall di salah satu kota di salah satu propinsi di Indonesia, ribet kan? Tidak perlu dipikirkan. Di tempat gym seperti ini biasa disediakan locker room, ruang ganti, toilet bahkan sauna tersendiri bagi kaum adam dan hawa. Kebetulan hari itu saya pergi sendiri tak ada yang menemani (hiks..) untuk ikut kelas yoga. Rutinitas saya selalu minta kunci locker, masuk locker room, ganti kostum, siap beraksi.
Nah kebetulan saat saya datang ada kelas yang baru selesai, jadi banyaklah orang berjubel di locker room. Sehabis berganti kostum saya leha-leha dulu di depan locker saya menanti kelas berikutnya mulai. Lalu datanglah mbak-mbak dari arah toilet menuju ke locker tepat di sebelah saya duduk. Cerita saya berikut mungkin agak vulgar, tapi the story must go on.

Grusuk grusuk... OK first, only panties on, and the rest covered with towel held by hand. Yes, held by hand only, not wrapping the whole upper body. Jadi wanita-wanita lain yang disekitarnya pastilah dengan sangat bisa melihat her “private parts”. Me, of course, cuma bisa duduk terganga. What’s just happened? Saat dinamakan private parts alias bagian pribadi, ya must stay private, bukan untuk public. Tapi berhubung kelas akan segera dimulai, saya cut kebengongan saya dengan segera beranjak dari locker room.

One hour later... I’m back to locker room. Saatnya mandi dan lagi-lagi another view. Kali ini ada mbak yang berbeda duduk dengan manis di dekat locker saya (note: head covered by towel, whole body covered too. No problem detected, yet!).

“Permisi,” begitu saya ucapkan kepada mbak tersebut karena terbatasnya ruang gerak saya dan membuat si mbak harus bergeser. Mbak tersebut berdiri, mengeluarkan handphone and yes, selfie time! And I was like, what?! I mean, selfie berbalut handuk?? Lalu si mbak membuka handuk di kepala, goyang-goyang kepala dikit, duduk lagi and another click click... Mungkin saya yang terlalu ndeso atau kampungan, atau kepo, whatever lah, tapi ini bikin saya bengong terus senyum-senyum sendiri dan geleng-geleng kepala. Sambil mengantri kamar mandi, saya berpikir, tujuan orang selfie jaman sekarang kan biar bisa upload ke sosmed, biar dunia luar tahu. Lha kalau yang diupload foto macam begitu, gimana tanggapan dunia? Mana cuma berbalut handuk dengan belahan dada yang mencuat ke permukaan. Tidak tahu lagi kalau hanya sekedar melengkapi koleksi pribadi.

Banyak orang yang mungkin tidak peduli dan tidak risih melakukan hal-hal tersebut, tapi however ini masih tempat umum. My comment? Ya sutrahlahh, biarin aja, apa mau dikata. Anjing menggonggong khafilah berlalu, dalam hal ini kayaknya saya yang menggonggong, mereka yang berlalu. Good newsnya, saya jadi punya bahan cerita ^o^
I’ll be writing another “incident”. Stay tune :)

Saturday, September 27, 2014

Peringatan Keras Bagi Kaum Wanita!


Judul tulisan saya kali ini bukan mengacu pada tindak kriminal atau tindak yang menyebabkan gangguan kesehatan atau semacamnya. Hanya berbagi pengalaman lucu yang terjadi saat saya berada public toilet alias kamar mandi umum. Again?? Jawabannya iya, lagi-lagi hal lucu di kamar mandi. Lalu mengapa kaum wanita saja? Bagaimana dengan kaum pria? Masalahnya saya wanita, jadi saya tidak mungkin dengan polosnya nyelonong ke toilet lawan jenis, kecuali terpaksa.

Mari kita mulai degan pengalaman pertama (dilarang berpikir jorok!). Suatu hari saya mengunjungi salah satu tempat nongkrong beken di jalan Adityawarman. Yang orang Surabaya pasti tahu betul tempat ini. Setelah berputar-putar tanpa tujuan, akhirnya saya kebelet juga. Maka saya melenggang ke toilet untuk melepas rasa kebelet tersebut.

Saat itu keadaan toilet sepi. Hanya ada petugas kebersihan yang asyik bergumul dengan kain lapnya. Pintu di bilik-bilik toilet umum kebanyakan selalu tertutup. Memaksa saya harus memelototi tanda merah-hijau di dekat pegangan pintu. Hanya saja terkadang tanda tersebut tidak valid. Kadang hijau tapi pintu tetap tidak bergeming saat kita coba membukanya, itulah negeri kita tercinta. Berbekal pengetahuan tersebut, saya biasa mencoba mendorong setiap pintu bilik satu per satu. Pokoknya kalau terbuka ya berarti empty alias kosong tidak ada penghuni.

Jadi mulailah saya beraksi. Dorongan pertama di pintu pertama di sebelah kiri, tanpa hasil, Dorongan kedua di pintu pertama di sebelah kanan, tanpa hasil. Dorongan kedua di sebelah kiri, juga nol. Padahal toilet ini sepi, sungguh aneh. Akhirnya saya sampai di pintu paling pojok di sebelah kanan. Bilik ini adalah yang paling besar, berarti dikhususkan untuk pengunjung yang berkursi roda atau memakai alat bantu lainnya. Berhubung semua pintu bilik tertutup rapat, akhirnya saya nekat mendorong pintu terakhir dan voila! It opens!

What happen next is really shocking! Saat pintu mulai terbuka saya melihat sekelebat bayangan. Oke, bukan bayangan tapi benda hidup. Bulat, kembar, tertutup kain celana setengah melorot. Oh noooo!!! Dengan gerakan secepat kilat tapi tanpa suara, saya tutup kembali pintu bilik itu dan mencari pintu lain. Syukurlah penghuni bilik sebelah keluar, dan saya pun masuk menjadi penghuni berikutnya dengan tanpa henti menghela napas dan geleng-geleng kepala. Kok ada ya orang dengan santainya “beraktifitas” di toilet umum tanpa mengunci pintu?! Yang memergoki syok, apalagi yang dipergoki. Yang lebih hebat lagi, orang tersebut tidak tahu bahwa saya baru saja mencoba memasuki area terlarangnya. Sayangnya saya tidak cukup cepat untuk melihat siapa tersangka utama pemilik “benda-benda” yang saya pergoki barusan.

Pengalaman kedua terjadi di toilet umum wanita di salah satu mal di daerah Basuki Rahmat. Waktu itu saya hendak menonton film di bioskop mal tersebut. Ritual yang biasa saya lakukan adalah toilet before movie. Berhubung film yang saya akan tonton cukup booming, maka demikian juga antrian di toilet ikutan booming. Biasalah, wanitaaaa…

Saya pun mengantri. Akhirnya saya tiba di antrian paling depan, tepat di depan pintu bilik salah satu toilet. Pintu bilik di toilet ini berbingkai kayu dengan dua kaca yang foggy, buram atau apalah istilahnya. Jadi meskipun kaca, pengunjung di luar tidak bakal bisa menerawang apa isi bilik tersebut. Tapi rupanya ada satu hal yang dilupakan oleh penghuni di dalam bilik yang sedang saya tunggu-tunggu untuk keluar. Foggy glass ini memang buram, tapi kalau kita coba menempelkan telapak tangan, orang yang berada di sisi berlawanan akan bisa melihat dengan jelas bentuk telapak tangan kita.

Hal inilah yang dilupakan cewek di dalam bilik. Kita tahu kalau tidak ada bilik yang cukup luas sehingga anda bisa “pencilakan” sesuka hati, kecuali bilik toilet untuk handicapped person yang saya ceritakan sebelumnya. Memang ruangnya sempit dan terbatas, but enough-lah kalau hanya untuk bergerak memelorot atau menaikkan celana. Jadilah cewek dalam bilik ini membelakangi pintu untuk menyiram W.C. dan menaikkan tata letak celananya . Masalahnya cewek tersebut terlalu dekaaaattt bahkan menempel di pintu. Plek!! Oh em jiiiiii… Lagi-lagi saya melihat benda ini lagi di toilet! Why meee?!

Saya cuma bisa mesam mesem kata orang Jawa, alias senyam-senyum sendiri. Entah pengunjung lain ikut melihat atraksi ini atau tidak, yang pasti ini terjadi di depan mata kepala saya. Jadi semacam acara pembuka sebelum film dimulai, haduhhh… Girls, please behave!

Itu mengapa judulnya peringatan keras bagi kaum wanita. Wahai kaum hawa, meskipun yang berada di toilet itu sesama wanita yang sama-sama punya harta benda yang sama, tetap saja menampilkan “barang-barang” milik pribadi secara sengaja maupun tidak sengaja akan membuat penonton “kelilipan”. Jadi berbekal pengalaman saya ini, harap para kaum wanita lebih berhati-hati dalam bertingkah laku di toilet. OK, girls? :)

Sunday, September 29, 2013

Eavesdropping ^o^

Siapa yang tidak pernah "menguping" pembicaraan orang lain sengaja atau tidak sengaja? Saya yakin semua pernah karena kita punya dua telinga yang tidak punya tombol on/off kecuali saat kita tidur. Bahkan orang dalam keadaan tidak sadarkan diri alias koma saja masih bisa mendengar bisikan kita di telinga mereka lewat alam bawah sadarnya (menurut orang-orang sih).

Nah sebelum mengoceh lebih jauh, saya akan bahas dulu arti eavesdropping yang jadi judul cerita saya kali ini. Saya bukannya juago buanget soal bahasa Inggris lho, yaa at least not bad lah hehe.. Eavesdropping artinya ya sama dengan menguping atau mendengarkan pembicaraan orang diam-diam (soalnya kalau rame-rame nggak bakal kedengeran ya to?). Entah bagaimana bisa dalam bahasa Inggris disebut eavesdrop, padahal eaves itu sendiri arti harafiahnya bagian atap. Lha kalau digabung dengan drop artinya jadi aneh kan, bagian atap yang jatuh?! Hahaha.. Okelah, pokoknya artinya menguping, titik!

Jadilah kali ini pengalaman eavesdropping saya adalah saat saya berenang. Nah bingung kan gimana caranya berenang bisa nguping? Tentu bisa! Yang jelas ya pas saya sampai tepian hohoho.. Jadi saat itu saya berenang sendiri sekaligus bersama. Sendirian berangkatnya, tanpa teman, tapi sampai di sana ya berenang bareng orang-orang lain juga, lha wong kolam renang umum. Setelah beberapa kali bolak balik, akhirnya saya berhenti sejenak, tarik napas panjang dulu dan secara "tidak sengaja" (bener-bener nggak sengaja lho) saya mendengar pembicaraan seorang laki-laki dengan pool guard di tepian kolam. Berhubung mata saya minus alias rabun jauh, saya tidak bisa melihat jelas wajah laki-laki tersebut. Tapi kalau dari suaranya sih, mungkin berumur 35 tahun keatas.

Entah apa yang mereka bicarakan, mungkin soal OCD yang lagi super ngetrend itu atau program diet yang lain. Yang pasti laki-laki itu berbicara dengan menggebu-gebu. Kira-kira pembicaraanya begini:

"Lho jangan salah, tubuh kita ini, meski nggak kemasukan makanan atau protein, bisa mengubah cadangan lemak yang disimpan di tubuh untuk jadi sumber energi."
(Sang pool guard sepanjang pembicaraan cuma manggut-manggut. Perkataan berikutnya saya tulis pakai bahasa Suroboyoan ya, karena lebih lucu hehe. Tapi saya beri terjemahan kok nanti)
"Lha lek koyok aku iki yo opo? Wong aku wes nggak nduwe lemak blas. Opo sing meh dibakar?"
(Terj: Lha kalau seperti saya ini bagaimana? Saya sudah tidak punya timbunan lemak sama sekali. Apa yang mau dibakar?)

Nah, perkataan laki-laki tadi menggelitik telinga saya. Saya langsung menoleh dan body scanning is started hahaha.. Yang terlihat pertama adalah tangan tentu saja karena separuh badan laki-laki tersebut ada di dalam air. Berotot? Lumayan. Besar? Nggak. Kering? Apalagi! Orang-orang gym seringkali pakai istilah kering untuk menunjukkan bahwa otot mereka sudah terbentuk dan tidak mengandung lemak ataupun air lagi (mau gampang memahami? Lihat saja badan kuli bangunan hehe)

Lantas saya langsung terpikir untuk scanning lebih jauh. Jadi saya langsung pakai kacamata berenang saya dan menyelam sedikit untuk melihat badan laki-laki tersebut. Meskipun saya rabun jauh tapi thanks to my swimming goggles yang juga sekaligus kacamata minus, saya bisa melihat "sedikit" lebih baik. Sumpah suwer, saya bukan bermaksud jorok atau mesum dengan memperhatikan badan laki-laki! Tapi saya mengikuti insting kecurigaan dan keingintahuan saya makanya saya otomatis melakukannya. Dan apa yang saya lihat saudara-saudara? Ya! Perut! Kenapa? Boro-boro sixpack, flat pun nggak. Malah gembung iya!
Brussshhh, air tersembur dari mulut saya saat saya kembali ke permukaan lagi. Plisss dehhhh... Jadi apa isi perutnya itu bukan lemak ya? Air mungkin karena kebanyakan menelan air kolam ckckck.

Mungkin itu alasannya kenapa dia ngobrol dengan badan separuh kecemplung air. Badan pool guardnya aja menurut saya jauhhhhh lebih bagusss. Lalu saya segera berenang menjauh ke seberang tepi yang lain sambil ngempet ketawa sambil berpikir kok bisa pede banget tuh orang hahahaha...
Apa anda juga pernah punya pengalaman menguping yang lucu?

Saturday, August 24, 2013

Libur Telah Tiba

http://www.colourbox.com/preview/2296578-539611-a-holiday-or-vacation-written-in-a-diary.jpg(Jadwal) libur telah tiba, (jadwal) libur telah tiba hore hore horeeee! *nyanyi versi Tasya jaman anak-anak dengan sedikit remix*

Setelah berhari-hari hunting, tiap hari ngapelin mbah Google sambil harap-harap cemas karena yang saya tahu cuma para Menteri negeri kita tercinta ini bakal kumpul-kumpul untuk membahas libur tanggal 20 Agustus kemarin, akhirnya keluar juga pernyataan resminya dari pemerintah. Dijamin nggak palsu karena saya dapat dari website Sekretariat Kabinet RI :)

Take a look at below table and plan your holiday!!! Yesss, hunting ticket tralalaaaa ^o^

Friday, June 14, 2013

Uniknya Dugemers – pt. 2



Pengalaman lucu lain, terjadi di malam yang sama saat saya bertemu dengan cewek “bermuka dua” yang saya ceritakan sebelumnya. Karena hari mulai pagi, saya kurang ingat jam berapa, kami pun memutuskan untuk pulang. Banyak diantara para clubbers lain juga melakukan yang sama.

Pub yang kami datangi ini harus melewati sebuah lorong sebelum kita bisa mencapai pintu masuk. Jadi kami pun harus melewati lorong yang sama saat kembali pulang. Karena lorong itu tidak terlalu lebar, kami pun berjalan beriring-iringan. Di tengah-tengah, sepatu saya hampir lepas. Jadi saya berhenti sejenak dengan satu tangan berpegangan pada dinding dan tangan yang lain membetulkan posisi sepatu.

Saya mendengar ada serombongan orang yang keluar. Mereka pun berjalan melewati saya. Tapi tiba-tiba plok! Ada sebuah tangan mendarat di pundak saya. Saya yang kaget langsung menoleh. Saya melihat seorang cowok yang seumuran dengan wajah merah dan tersenyum lalu dia menyapa, “Haiiiii...” Sementara saya bingung melihat orang yang tidak saya kenal, salah satu teman cowok itu dengan segera menggandeng cowok itu pergi sambil meminta maaf. Oh mabuk to rupanya.

Sementara di waktu lain, saya juga pernah disapa orang-orang teler. Saat itu saya bersama dua teman wanita saya berjalan ke kamar kecil. Malam makin larut, alkohol yang masuk makin banyak membuat “pergi ke toilet” semakin wajib. Di tengah-tengah perjalanan tahu-tahu seorang cowok yang nggak jelas dari mana, menarik tangan saya. Dia langsung bertanya, “Are you a Thai?” Di pub yang kami kunjungi malam itu memang terkenal dengan sexy dancers-nya yang berasal dari Negeri Gajah Putih alias Thailand. Saya sontak menjawab, “Nope!” Lalu saya melenggang pergi. Mungkin cowok itu sedang mengincar cewek-cewek Thailand. Cuma berhubung mabuk, lantas tidak bisa membedakan atau memang niat asal tarik.

Pengalaman lain, saat saya berkunjung ke Singapura. Saya bersama adik saya dan dua teman saya yang berasal dari Singapura pergi mengunjungi salah satu pub di daerah Clarke Quay. Karena malas mendengar musik yang berisik, kami memutuskan untuk mengambil meja outdoor yang lebih nyaman. Kebutuhan yang sama memaksa saya ke toilet. Kali ini bukan karena banyaknya minuman keras yang masuk tapi karena setelah berjalan-jalan dari sore, saya memang sudah kebelet buang air.

Salah satu teman saya memutuskan untuk menemani saya ke kamar kecil. Teman saya pun menuju ke toilet khusus pria dan saya menuju ke arah sebaliknya. Setelah menyelesaikan “bisnis yang tertunda” saya pun berjalan keluar. Kamar kecil tersebut terletak di lantai dua. Saat saya baru keluar dari kamar kecil, saya melihat seorang bule cowok yang sedang menaiki tangga.

Dengan muka merah tiba-tiba bule itu berjalan menghampiri saya. “Hey are you wprkmthfdgsvc bla bla bla...?” Karena saya malas berurusan dengan orang tersebut dan terus terang saya sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan, saya hanya menjawab pendek, “Nope.” Lalu saya turun ke lantai satu. Dalam hati saya berpikir mungkin bule itu bingung karena jawaban yang saya berikan nggak nyambung dengan pertanyaannya.

Yang saya baru sadari, insiden-insiden lucu ini semua terjadi dalam perjalanan saya ke atau dari kamar kecil. Mulai dari cewek bermuka dua, disapa cowok tak dikenal, yang dikira Thai dan pertanyaan bahasa alien dari bule, semuanya terjadi gara-gara perjalanan toilet saya selama clubbing ckckck... Kutukan toilet!

Saturday, June 8, 2013

Uniknya Dugemers – part 1



Saya menyebut unik, karena kata memalukan, menjijikkan atau ngisin-ngisini, nggilani (istilah saya) mungkin terlalu gimanaaa gitu. Anything weird can happen in a club. Saya ingat punya beberapa pengalaman lucu saat di dunia gemerlap alias dugem atau bahasa kerennya clubbing. Pernah saya dengan beberapa teman kuliah pergi mengunjungi salah satu pub di salah satu hotel berbintang di Surabaya yang pada waktu itu paling happening. Kami menikmati musik, bergoyang kanan kiri mengikuti lagu di tengah suasana yang hiruk pikuk.

Salah satu teman laki-laki saya pada saat itu membawa teman wanita yang saya tidak kenal entah karena niat PDKT atau yang lain. Karena kami masih kunyuk-kunyuk, kami hanya memesan cocktail dan satu pitcher bir untuk diminum bersama. Jumlah kami sebenarnya cukup banyak yaitu berdelapan. Jadi minuman yang kami pesan dijamin tidak akan bikin mabuk,. Boro-boro mabuk, pusing pun nggak bakalan kecuali kalau memang alergi alkohol.

Nah si cewek yang teman saya bawa mulai minum dan mulai “menggila”. Dia menari, melenggak lenggok dengan hot-nya seperti ikan yang menggelepar di daratan kering tanpa air. Bahkan kemben yang dipakainya melorot. Teman-teman saya laki-laki sih pasti happy happy saja disuguhi tontonan gratis dan menarik. Akhirnya salah satu teman saya berinisiatif memegangi cewek itu agar nggak keleleran kemana-mana. Tapi saat dipegangi, dia malah makin menjadi. Bolak-balik teman saya hampir ikut ndelosor karena tiba-tiba cewek itu mau jatuh.

Saya yang melihat semua runtutan kejadian itu cuma bisa melongo dan berpikir, “Nih cewek kenapa sih? Kok heboh banget.” Salah satu teman saya seperti membaca pikiran saya lalu berbisik, “Katanya cewek ini biasa ke diskotik pake ineks, biasa gedhek. Katanya sih kalau biasa ngineks, nggak kuat minum.” Saya hanya manggut-manggut dapat informasi baru seperti itu.

Selang beberapa saat, cewek itu rupanya mau ke kamar kecil. Akhirnya saya dan salah satu teman cewek saya pun menemani. Solidaritas cewek, begitu istilahnya. Kami berdua memegang lengan cewek itu erat-erat, karena kami sudah melihat dia bolak-balik mau jatuh dan benar dia terseok-seok. Saya berpikir, “Wah cewek ini pasti mabuk berat.” Tapi anehnya, seok-seok cewek ini hanya berlangsung saat kami masih dalam jangkauan pengelihatan teman laki-laki saya. Begitu kami cukup jauh dan pintu kamar kecil hanya berjarak 5 meter, dia langsung berdiri tegak dan berkata, “Nggak papa kok. Bisa sendiri.”

Mulanya saya pikir dia merasa sungkan karena harus merepotkan kami. Jadi kami pun tetap ikut masuk ke dalam, membuntuti cewek ini. Namun ternyata kata-kata yang dia ucapkan memang benar terjadi. Dia berjalan lurus (tanpa terseok-seok) dan sukses masuk ke salah satu bilik dan seterusnya, beraktifitas sendiri tanpa bantuan kami. Kami pun saling berpandang-pandangan. Dengan telepati kami saring mengirim pesan, “Cewek ini ternyata cuma pura-pura. Pura-pura teler ato gimana sih?” Karena merasa ditipu, kami berdua langsung keluar dengan sebal. Amit-amit deh, ternyata cuma mau akting buat dapet perhatian para cowok. Harusnya kalau memang niat ya jangan terang-terangan berhenti pas di depan kita para cewek. Kan kita malah jadi sadar sama motifnya. Duhhhh... najissssss....

Friday, May 31, 2013

Super Fun Ride



Saya adalah pecinta wahana atau permainan yang bikin jantung copot bagi yang lemah jantung. Otomatis saya menjadi pecinta theme park alias amusement park. Saya suka sekali naik jetcoaster, roller-coaster, atau wahana-wahana lain yang mengandalkan kecepatan, ketinggian, ayunan atau putaran 180° ataupun 360° yang biasanya bikin pusing atau mual atau keduanya. Saat saya mengunjungi area permainan seperti ini, adalah wajib hukumnya untuk mencoba permainan seru tersebut. Dibanding masuk ke rumah hantu yang kerjanya hanya menakut-nakuti orang dan sensasinya juga gitu-gitu aja, saya lebih suka permainan “seram” dalam arti lain.

Suatu saat, salah satu teman dekat saya berulang tahun. Saya dan teman saya yang lain merencanakan untuk memberikan surprise. Tapi surprise yang kami berikan ini mungkin agak tidak menyenangkan bagi dia atau malah sama sekali tidak menyenangkan.

Kami berdua tahu benar kalau teman kami ini tidak bisa naik ke wahana-wahana pacu jantung. Jadilah rencana yang kami jalankan berhubungan dengan wahana tersebut. Di salah satu mal di Surabaya menyediakan wahana yang disebut Galleon. Bagi anda yang pernah ke Dufan di Jakarta, mungkin anda tahu Kora Kora yang berupa perahu besar yang diayun maju mundur dengan ketinggian dan kecepatan tertentu. Galleon ini sama persis dengan Kora Kora, hanya ukurannya lebih kecil karena lokasinya indoor. Namun ayunan dan sensasi yang ditimbulkan cukup menyaingi Kora Kora.

Di hari yang kami rencanakan, kami berkumpul di salah satu rumah teman. Dari situ teman kami yang berulang tahun ditutup matanya dengan sapu tangan lalu kami giring ke mobil. Bersama dua orang teman kami yang lain, kami pun berangkat ke mal yang dituju. Sepanjang jalan teman kami itu sudah memberian ancaman, “Awas kalau kalian macem-macem ya!” Namun kami hanya tertawa sambil mengumbar janji palsu bahwa semua akan baik-baik saja.

Sebelumnya kami sudah bersekongkol dengan pacar teman kami agar dia menyanggupi untuk melakukan apa saja agar rencana kami berhasil. Entah nggak sayang pacar atau habis berantem atau memang dia ingin melihat pacarnya “menderita” sedikit atau ada alasan lain, dia pun setuju.
Sesampainya di mal, kami terus menggiring teman kami itu ke arah wahana. Karena mendengar keadaan sekitar yang berisik, teman kami sadar kalau dia sedang digiring di mal. Dan tentu saja dengan firasat buruk, dia berteriak, “Asem, kalian bawa aku naek Galleon ya?!” Karena rencana kami ketahuan, kami pun lantas bilang, “Nggak papalah... Sekali-sekali ajaaa...”

Sementara mereka berjalan ke arah wahana, saya berlari mendahului untuk membeli tiket. Saya langsung beli dua tiket untuk tiap orang. Sampai di depan wahana, penutup mata lalu kami lepas dan kami pun naik. Kami memaksa teman kami untuk duduk di paling ujung bersama pacarnya. Karena makin diujung, maka makin terasa ayunannya. Saya memberikan sepuluh tiket sekaligus dan menyuruh petugas wahana agar langsung mengoperasikan Galleon tersebut tanpa henti untuk dua kali permainan.

Sang petugas pun setuju, dan Galleon mulai beroperasi. Teman kami yang mulai ngeri lalu menutup muka. Saat ayunan makin keras lagi dan lagi, akhirnya ia berteriak memaki-maki, “Jancooookkk...” (makian khas Surabaya). Kami yang mendengar lolongan makian dari ujung satunya tertawa tergelak-gelak. Galleon terus berayun sampai waktunya habis.
Teman kami pun turun dengan lemas, wajah pucat, mata berair sehabis menangis dan mulut yang penuh liur karena saking takutnya. Lalu dia mulai memukuli pacarnya dan memaki-maki. Seumur hidup mungkin dia tidak akan naik Galleon lagi gara-gara kami atau seumur hidup dia bakal benci pacarnya gara-gara kejadian ini.