Sunday, September 29, 2013

Eavesdropping ^o^

Siapa yang tidak pernah "menguping" pembicaraan orang lain sengaja atau tidak sengaja? Saya yakin semua pernah karena kita punya dua telinga yang tidak punya tombol on/off kecuali saat kita tidur. Bahkan orang dalam keadaan tidak sadarkan diri alias koma saja masih bisa mendengar bisikan kita di telinga mereka lewat alam bawah sadarnya (menurut orang-orang sih).

Nah sebelum mengoceh lebih jauh, saya akan bahas dulu arti eavesdropping yang jadi judul cerita saya kali ini. Saya bukannya juago buanget soal bahasa Inggris lho, yaa at least not bad lah hehe.. Eavesdropping artinya ya sama dengan menguping atau mendengarkan pembicaraan orang diam-diam (soalnya kalau rame-rame nggak bakal kedengeran ya to?). Entah bagaimana bisa dalam bahasa Inggris disebut eavesdrop, padahal eaves itu sendiri arti harafiahnya bagian atap. Lha kalau digabung dengan drop artinya jadi aneh kan, bagian atap yang jatuh?! Hahaha.. Okelah, pokoknya artinya menguping, titik!

Jadilah kali ini pengalaman eavesdropping saya adalah saat saya berenang. Nah bingung kan gimana caranya berenang bisa nguping? Tentu bisa! Yang jelas ya pas saya sampai tepian hohoho.. Jadi saat itu saya berenang sendiri sekaligus bersama. Sendirian berangkatnya, tanpa teman, tapi sampai di sana ya berenang bareng orang-orang lain juga, lha wong kolam renang umum. Setelah beberapa kali bolak balik, akhirnya saya berhenti sejenak, tarik napas panjang dulu dan secara "tidak sengaja" (bener-bener nggak sengaja lho) saya mendengar pembicaraan seorang laki-laki dengan pool guard di tepian kolam. Berhubung mata saya minus alias rabun jauh, saya tidak bisa melihat jelas wajah laki-laki tersebut. Tapi kalau dari suaranya sih, mungkin berumur 35 tahun keatas.

Entah apa yang mereka bicarakan, mungkin soal OCD yang lagi super ngetrend itu atau program diet yang lain. Yang pasti laki-laki itu berbicara dengan menggebu-gebu. Kira-kira pembicaraanya begini:

"Lho jangan salah, tubuh kita ini, meski nggak kemasukan makanan atau protein, bisa mengubah cadangan lemak yang disimpan di tubuh untuk jadi sumber energi."
(Sang pool guard sepanjang pembicaraan cuma manggut-manggut. Perkataan berikutnya saya tulis pakai bahasa Suroboyoan ya, karena lebih lucu hehe. Tapi saya beri terjemahan kok nanti)
"Lha lek koyok aku iki yo opo? Wong aku wes nggak nduwe lemak blas. Opo sing meh dibakar?"
(Terj: Lha kalau seperti saya ini bagaimana? Saya sudah tidak punya timbunan lemak sama sekali. Apa yang mau dibakar?)

Nah, perkataan laki-laki tadi menggelitik telinga saya. Saya langsung menoleh dan body scanning is started hahaha.. Yang terlihat pertama adalah tangan tentu saja karena separuh badan laki-laki tersebut ada di dalam air. Berotot? Lumayan. Besar? Nggak. Kering? Apalagi! Orang-orang gym seringkali pakai istilah kering untuk menunjukkan bahwa otot mereka sudah terbentuk dan tidak mengandung lemak ataupun air lagi (mau gampang memahami? Lihat saja badan kuli bangunan hehe)

Lantas saya langsung terpikir untuk scanning lebih jauh. Jadi saya langsung pakai kacamata berenang saya dan menyelam sedikit untuk melihat badan laki-laki tersebut. Meskipun saya rabun jauh tapi thanks to my swimming goggles yang juga sekaligus kacamata minus, saya bisa melihat "sedikit" lebih baik. Sumpah suwer, saya bukan bermaksud jorok atau mesum dengan memperhatikan badan laki-laki! Tapi saya mengikuti insting kecurigaan dan keingintahuan saya makanya saya otomatis melakukannya. Dan apa yang saya lihat saudara-saudara? Ya! Perut! Kenapa? Boro-boro sixpack, flat pun nggak. Malah gembung iya!
Brussshhh, air tersembur dari mulut saya saat saya kembali ke permukaan lagi. Plisss dehhhh... Jadi apa isi perutnya itu bukan lemak ya? Air mungkin karena kebanyakan menelan air kolam ckckck.

Mungkin itu alasannya kenapa dia ngobrol dengan badan separuh kecemplung air. Badan pool guardnya aja menurut saya jauhhhhh lebih bagusss. Lalu saya segera berenang menjauh ke seberang tepi yang lain sambil ngempet ketawa sambil berpikir kok bisa pede banget tuh orang hahahaha...
Apa anda juga pernah punya pengalaman menguping yang lucu?

Saturday, August 24, 2013

Libur Telah Tiba

http://www.colourbox.com/preview/2296578-539611-a-holiday-or-vacation-written-in-a-diary.jpg(Jadwal) libur telah tiba, (jadwal) libur telah tiba hore hore horeeee! *nyanyi versi Tasya jaman anak-anak dengan sedikit remix*

Setelah berhari-hari hunting, tiap hari ngapelin mbah Google sambil harap-harap cemas karena yang saya tahu cuma para Menteri negeri kita tercinta ini bakal kumpul-kumpul untuk membahas libur tanggal 20 Agustus kemarin, akhirnya keluar juga pernyataan resminya dari pemerintah. Dijamin nggak palsu karena saya dapat dari website Sekretariat Kabinet RI :)

Take a look at below table and plan your holiday!!! Yesss, hunting ticket tralalaaaa ^o^

Friday, June 14, 2013

Uniknya Dugemers – pt. 2



Pengalaman lucu lain, terjadi di malam yang sama saat saya bertemu dengan cewek “bermuka dua” yang saya ceritakan sebelumnya. Karena hari mulai pagi, saya kurang ingat jam berapa, kami pun memutuskan untuk pulang. Banyak diantara para clubbers lain juga melakukan yang sama.

Pub yang kami datangi ini harus melewati sebuah lorong sebelum kita bisa mencapai pintu masuk. Jadi kami pun harus melewati lorong yang sama saat kembali pulang. Karena lorong itu tidak terlalu lebar, kami pun berjalan beriring-iringan. Di tengah-tengah, sepatu saya hampir lepas. Jadi saya berhenti sejenak dengan satu tangan berpegangan pada dinding dan tangan yang lain membetulkan posisi sepatu.

Saya mendengar ada serombongan orang yang keluar. Mereka pun berjalan melewati saya. Tapi tiba-tiba plok! Ada sebuah tangan mendarat di pundak saya. Saya yang kaget langsung menoleh. Saya melihat seorang cowok yang seumuran dengan wajah merah dan tersenyum lalu dia menyapa, “Haiiiii...” Sementara saya bingung melihat orang yang tidak saya kenal, salah satu teman cowok itu dengan segera menggandeng cowok itu pergi sambil meminta maaf. Oh mabuk to rupanya.

Sementara di waktu lain, saya juga pernah disapa orang-orang teler. Saat itu saya bersama dua teman wanita saya berjalan ke kamar kecil. Malam makin larut, alkohol yang masuk makin banyak membuat “pergi ke toilet” semakin wajib. Di tengah-tengah perjalanan tahu-tahu seorang cowok yang nggak jelas dari mana, menarik tangan saya. Dia langsung bertanya, “Are you a Thai?” Di pub yang kami kunjungi malam itu memang terkenal dengan sexy dancers-nya yang berasal dari Negeri Gajah Putih alias Thailand. Saya sontak menjawab, “Nope!” Lalu saya melenggang pergi. Mungkin cowok itu sedang mengincar cewek-cewek Thailand. Cuma berhubung mabuk, lantas tidak bisa membedakan atau memang niat asal tarik.

Pengalaman lain, saat saya berkunjung ke Singapura. Saya bersama adik saya dan dua teman saya yang berasal dari Singapura pergi mengunjungi salah satu pub di daerah Clarke Quay. Karena malas mendengar musik yang berisik, kami memutuskan untuk mengambil meja outdoor yang lebih nyaman. Kebutuhan yang sama memaksa saya ke toilet. Kali ini bukan karena banyaknya minuman keras yang masuk tapi karena setelah berjalan-jalan dari sore, saya memang sudah kebelet buang air.

Salah satu teman saya memutuskan untuk menemani saya ke kamar kecil. Teman saya pun menuju ke toilet khusus pria dan saya menuju ke arah sebaliknya. Setelah menyelesaikan “bisnis yang tertunda” saya pun berjalan keluar. Kamar kecil tersebut terletak di lantai dua. Saat saya baru keluar dari kamar kecil, saya melihat seorang bule cowok yang sedang menaiki tangga.

Dengan muka merah tiba-tiba bule itu berjalan menghampiri saya. “Hey are you wprkmthfdgsvc bla bla bla...?” Karena saya malas berurusan dengan orang tersebut dan terus terang saya sama sekali tidak mengerti apa yang dia bicarakan, saya hanya menjawab pendek, “Nope.” Lalu saya turun ke lantai satu. Dalam hati saya berpikir mungkin bule itu bingung karena jawaban yang saya berikan nggak nyambung dengan pertanyaannya.

Yang saya baru sadari, insiden-insiden lucu ini semua terjadi dalam perjalanan saya ke atau dari kamar kecil. Mulai dari cewek bermuka dua, disapa cowok tak dikenal, yang dikira Thai dan pertanyaan bahasa alien dari bule, semuanya terjadi gara-gara perjalanan toilet saya selama clubbing ckckck... Kutukan toilet!

Saturday, June 8, 2013

Uniknya Dugemers – part 1



Saya menyebut unik, karena kata memalukan, menjijikkan atau ngisin-ngisini, nggilani (istilah saya) mungkin terlalu gimanaaa gitu. Anything weird can happen in a club. Saya ingat punya beberapa pengalaman lucu saat di dunia gemerlap alias dugem atau bahasa kerennya clubbing. Pernah saya dengan beberapa teman kuliah pergi mengunjungi salah satu pub di salah satu hotel berbintang di Surabaya yang pada waktu itu paling happening. Kami menikmati musik, bergoyang kanan kiri mengikuti lagu di tengah suasana yang hiruk pikuk.

Salah satu teman laki-laki saya pada saat itu membawa teman wanita yang saya tidak kenal entah karena niat PDKT atau yang lain. Karena kami masih kunyuk-kunyuk, kami hanya memesan cocktail dan satu pitcher bir untuk diminum bersama. Jumlah kami sebenarnya cukup banyak yaitu berdelapan. Jadi minuman yang kami pesan dijamin tidak akan bikin mabuk,. Boro-boro mabuk, pusing pun nggak bakalan kecuali kalau memang alergi alkohol.

Nah si cewek yang teman saya bawa mulai minum dan mulai “menggila”. Dia menari, melenggak lenggok dengan hot-nya seperti ikan yang menggelepar di daratan kering tanpa air. Bahkan kemben yang dipakainya melorot. Teman-teman saya laki-laki sih pasti happy happy saja disuguhi tontonan gratis dan menarik. Akhirnya salah satu teman saya berinisiatif memegangi cewek itu agar nggak keleleran kemana-mana. Tapi saat dipegangi, dia malah makin menjadi. Bolak-balik teman saya hampir ikut ndelosor karena tiba-tiba cewek itu mau jatuh.

Saya yang melihat semua runtutan kejadian itu cuma bisa melongo dan berpikir, “Nih cewek kenapa sih? Kok heboh banget.” Salah satu teman saya seperti membaca pikiran saya lalu berbisik, “Katanya cewek ini biasa ke diskotik pake ineks, biasa gedhek. Katanya sih kalau biasa ngineks, nggak kuat minum.” Saya hanya manggut-manggut dapat informasi baru seperti itu.

Selang beberapa saat, cewek itu rupanya mau ke kamar kecil. Akhirnya saya dan salah satu teman cewek saya pun menemani. Solidaritas cewek, begitu istilahnya. Kami berdua memegang lengan cewek itu erat-erat, karena kami sudah melihat dia bolak-balik mau jatuh dan benar dia terseok-seok. Saya berpikir, “Wah cewek ini pasti mabuk berat.” Tapi anehnya, seok-seok cewek ini hanya berlangsung saat kami masih dalam jangkauan pengelihatan teman laki-laki saya. Begitu kami cukup jauh dan pintu kamar kecil hanya berjarak 5 meter, dia langsung berdiri tegak dan berkata, “Nggak papa kok. Bisa sendiri.”

Mulanya saya pikir dia merasa sungkan karena harus merepotkan kami. Jadi kami pun tetap ikut masuk ke dalam, membuntuti cewek ini. Namun ternyata kata-kata yang dia ucapkan memang benar terjadi. Dia berjalan lurus (tanpa terseok-seok) dan sukses masuk ke salah satu bilik dan seterusnya, beraktifitas sendiri tanpa bantuan kami. Kami pun saling berpandang-pandangan. Dengan telepati kami saring mengirim pesan, “Cewek ini ternyata cuma pura-pura. Pura-pura teler ato gimana sih?” Karena merasa ditipu, kami berdua langsung keluar dengan sebal. Amit-amit deh, ternyata cuma mau akting buat dapet perhatian para cowok. Harusnya kalau memang niat ya jangan terang-terangan berhenti pas di depan kita para cewek. Kan kita malah jadi sadar sama motifnya. Duhhhh... najissssss....

Friday, May 31, 2013

Super Fun Ride



Saya adalah pecinta wahana atau permainan yang bikin jantung copot bagi yang lemah jantung. Otomatis saya menjadi pecinta theme park alias amusement park. Saya suka sekali naik jetcoaster, roller-coaster, atau wahana-wahana lain yang mengandalkan kecepatan, ketinggian, ayunan atau putaran 180° ataupun 360° yang biasanya bikin pusing atau mual atau keduanya. Saat saya mengunjungi area permainan seperti ini, adalah wajib hukumnya untuk mencoba permainan seru tersebut. Dibanding masuk ke rumah hantu yang kerjanya hanya menakut-nakuti orang dan sensasinya juga gitu-gitu aja, saya lebih suka permainan “seram” dalam arti lain.

Suatu saat, salah satu teman dekat saya berulang tahun. Saya dan teman saya yang lain merencanakan untuk memberikan surprise. Tapi surprise yang kami berikan ini mungkin agak tidak menyenangkan bagi dia atau malah sama sekali tidak menyenangkan.

Kami berdua tahu benar kalau teman kami ini tidak bisa naik ke wahana-wahana pacu jantung. Jadilah rencana yang kami jalankan berhubungan dengan wahana tersebut. Di salah satu mal di Surabaya menyediakan wahana yang disebut Galleon. Bagi anda yang pernah ke Dufan di Jakarta, mungkin anda tahu Kora Kora yang berupa perahu besar yang diayun maju mundur dengan ketinggian dan kecepatan tertentu. Galleon ini sama persis dengan Kora Kora, hanya ukurannya lebih kecil karena lokasinya indoor. Namun ayunan dan sensasi yang ditimbulkan cukup menyaingi Kora Kora.

Di hari yang kami rencanakan, kami berkumpul di salah satu rumah teman. Dari situ teman kami yang berulang tahun ditutup matanya dengan sapu tangan lalu kami giring ke mobil. Bersama dua orang teman kami yang lain, kami pun berangkat ke mal yang dituju. Sepanjang jalan teman kami itu sudah memberian ancaman, “Awas kalau kalian macem-macem ya!” Namun kami hanya tertawa sambil mengumbar janji palsu bahwa semua akan baik-baik saja.

Sebelumnya kami sudah bersekongkol dengan pacar teman kami agar dia menyanggupi untuk melakukan apa saja agar rencana kami berhasil. Entah nggak sayang pacar atau habis berantem atau memang dia ingin melihat pacarnya “menderita” sedikit atau ada alasan lain, dia pun setuju.
Sesampainya di mal, kami terus menggiring teman kami itu ke arah wahana. Karena mendengar keadaan sekitar yang berisik, teman kami sadar kalau dia sedang digiring di mal. Dan tentu saja dengan firasat buruk, dia berteriak, “Asem, kalian bawa aku naek Galleon ya?!” Karena rencana kami ketahuan, kami pun lantas bilang, “Nggak papalah... Sekali-sekali ajaaa...”

Sementara mereka berjalan ke arah wahana, saya berlari mendahului untuk membeli tiket. Saya langsung beli dua tiket untuk tiap orang. Sampai di depan wahana, penutup mata lalu kami lepas dan kami pun naik. Kami memaksa teman kami untuk duduk di paling ujung bersama pacarnya. Karena makin diujung, maka makin terasa ayunannya. Saya memberikan sepuluh tiket sekaligus dan menyuruh petugas wahana agar langsung mengoperasikan Galleon tersebut tanpa henti untuk dua kali permainan.

Sang petugas pun setuju, dan Galleon mulai beroperasi. Teman kami yang mulai ngeri lalu menutup muka. Saat ayunan makin keras lagi dan lagi, akhirnya ia berteriak memaki-maki, “Jancooookkk...” (makian khas Surabaya). Kami yang mendengar lolongan makian dari ujung satunya tertawa tergelak-gelak. Galleon terus berayun sampai waktunya habis.
Teman kami pun turun dengan lemas, wajah pucat, mata berair sehabis menangis dan mulut yang penuh liur karena saking takutnya. Lalu dia mulai memukuli pacarnya dan memaki-maki. Seumur hidup mungkin dia tidak akan naik Galleon lagi gara-gara kami atau seumur hidup dia bakal benci pacarnya gara-gara kejadian ini.

Parfum & Selera

Suatu kali, di perjalanan kembali ke kampung halaman, saya pulang dengan menggunakan van alias travel. Agak lucu kalau dipikir kenapa tranportasi ini disebut travel. Pernah satu kali teman saya dari Malaysia bingung saat saya menyebut travel, “What is that?” Untungnya kami pernah bepergian ke Thailand menggunakan transportasi serupa. Jadi saya langsung menjawab, “You usually call it as van hahaha...”

Saat itu, saya adalah penumpang pertama yang dijemput. Saya ini tipe orang yang seringkali “terganggu” dengan selera orang lain yang menurut saya nyeleneh. Lalu kami sampai pada penjemputan penumpang ketiga. Seorang cowok, agak chubby tapi terlihat rapi dan sepertinya cukup ramah. Karena begitu supir travel turun untuk membantu cowok ini naik ke mobil, dia langsung cas cis cus menyerocos. Dia duduk tepat di depan bangku saya. You know what happen? His perfume oh my goshhhh... Kalau bagi saya sih itu bukan tergolong parfum tapi minyak kenyongnyong. Bagi yang tidak tahu apa itu minyak nyongnyong, terus terang saya juga bingung mengartikannya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pokoknya baunya super wangi, super menyengat, langsung memenuhi mobil dan bikin mual. Nah mungkin dengan deskripsi seperti ini, anda sekalian tahu apa maksud saya.

Kebetulan sudah beberapa hari perut saya agak kurang beres, kembung yang nggak jelas. Ditambah lagi supir travel hari itu, meskipun orangnya sabar dan sumringah, tapi cara menyetirnya ampun-ampun, tipe driver yang saya paling benci. Suka gas pol lalu mendadak dilepas tanpa tedeng aling-aling, ngerem suka mendadak, pokoknya ramuan komplit yang bikin saya tambah mual. Sepanjang jalan saya cuma bisa berdoa agar saya nggak muntah sambil mengusap minyak kayu putih dan mengunyah permen mint.

Dengan masuknya penumpang “menyengat” ini, mual saya makin menjadi. Saya terus-terusan menghela nafas, berharap baunya cepat hilang walau itu tidak mungkin. Kalau dilihat dari daya jangkau dan daya tahannya, kemungkinan cowok tersebut habis separuh botol parfum, alamakk... Mungkin dia salah satu stockist parfum.

Lalu mobil pun melaju ke destinasi selanjutnya untuk menjemput penumpang keempat. Kali ini kami memasuki kawasan universitas saya dulu. Travel pun akhirnya berhenti di alamat yang dituju, lagi-lagi penumpang cowok, anak kuliahan yang masih “sinyo-sinyo”. Dia lalu masuk ke mobil dan duduk di deret yang sama dengan cowok “menyengat” tadi. Apa yang terjadi? Same thing happened. Lagi-lagi bau parfum. Tapi kali ini bukan minyak kenyongnyong yang tercium hidung saya, melainkan parfum beneran hahaha... Baunya sangat fresh dan yang paling penting nggak bikin mual. Syukurlah bau “menyengat” tadi mulai pudar. Mungkin “kalah hawa” dengan parfum yang kelasnya lebih atas.

Mulailah saya berpikir, apa jenis orang menentukan selera ya? Memang cowok “menyengat” itu belum terlalu tua tapi dandanannya sudah lebih bapak-bapak. Sedangkan si “sinyo” jelas lebih muda dan lebih keren. Yang saya nggak habis pikir, pada waktu beli parfum tuh apa sih yang dipikir cowok “menyengat” itu? Waktu dia dengan semangatnya menyemprotkan parfum  seluruh badan, apa hidungnya sendiri nggak terganggu? Kok bisa tahan gitu lho?

Jadilah saya menarik kesimpulan, memang beda usia beda selera, tapi saya sendiri yang sudah mulai tua nggak merasa demikian lho. Mungkin karena saya masih terus berjiwa muda haha... Beda ras, beda warna kulit, beda duit juga menentukan selera. Bukannya saya rasis, ini cuma penilaian asal lewat. Ah, tapi kalau urusan duit, parfum murah juga ada yang baunya enak kok. Memang selera, kualitas dan keahlian hidung masing-masing yang menentukan :)

Thursday, January 31, 2013

A Hello from Me

First post and first publication from me in this blog :)

Kenapa dinamai "La Storia et Monogatari"? Hmmm... terus terang saya cari ilham pake Google Translate hahaha.. Saya cuma berpikir, kalau saya kasih nama blog ini "My Story" saja kok kurang menarik. Kurang eye catching begitu istilah kerennya. Jadilah saya coba translate lewat Google sampai ketemu kata-kata yang bener-bener pas dihati. Cie ileeeehhh...
Nama blog yang saya pakai ini sebenarnya terdiri dari tiga bahasa yang berbeda. La Storia adalah terjemahan the story ke dalam bahasa Italia. Bukannya saya jago bahasa Italia lantas sok-sokan pakai bahasa ini, karena jujur saya cuma tahu bahasa Italia seputar "ciao" dan "arrivederci" saja (^o^). Sedangkan et merupakan terjemahan "dan" alias "and" dalam bahasa Perancis. Begini-begini saya juga pernah belajar bahasa Perancis (walau cuma bertahan sampai 3 level beginner saja), jadi saya tahu kalau et itu artinya dan (bingung kan?).
Kalau Monogatari sudah pasti ketahuan asalnya dari Negeri Sakura alias bahasa Jepang. Karakter aslinya ditulis seperti ini  物語 (dibaca: monogatari). Arti dalam bahasa Inggrisnya juga sama the story.

Kembali ke pertanyaan asal, kenapa dinamai demikian? Karena yang saya bakal publish disini adalah cerita maupun pengalaman yang saya alami sendiri. Mungkin kalau dicerna lebih dalam judul blog ini agak "mbokamsut" alias "nggak ono maksude" hahaha.. Ini blog merupakan sekedar media saja bagi saya untuk memenuhi "nafsu" berkreasi. Daripada harus menulis diary bak cewek-cewek jaman baheula (ups! saya nggak bermaksud menghina anda sekalian yang masih menulis di buku diary, cuma itu bukan saya banget, lagipula saya ini nggak suka repot dan suka lupa kalau harus tiap hari menulis :D), saya lebih suka buat blog macam begini.
Cerita yang saya bakal publish nggak semua terjadi baru-baru ini. Ada beberapa yang pengalaman masa lalu, bukan dalam arti negatif yang menyakitkan dan menyayat hati, tapi yang memang masih saya ingat sampai sekarang.

So, I hope you all enjoy reading la mia storia alias mon historie alias watashi no monogatari. Halahhh opo aeeeee....
(▽≦)