Saya adalah
pecinta wahana atau permainan yang bikin jantung copot bagi yang lemah jantung.
Otomatis saya menjadi pecinta theme park alias amusement park. Saya suka sekali
naik jetcoaster, roller-coaster, atau wahana-wahana lain yang mengandalkan
kecepatan, ketinggian, ayunan atau putaran 180° ataupun 360° yang biasanya
bikin pusing atau mual atau keduanya. Saat saya mengunjungi area permainan
seperti ini, adalah wajib hukumnya untuk mencoba permainan seru tersebut.
Dibanding masuk ke rumah hantu yang kerjanya hanya menakut-nakuti orang dan
sensasinya juga gitu-gitu aja, saya lebih suka permainan “seram” dalam arti
lain.
Suatu saat,
salah satu teman dekat saya berulang tahun. Saya dan teman saya yang lain
merencanakan untuk memberikan surprise. Tapi surprise yang kami berikan ini
mungkin agak tidak menyenangkan bagi dia atau malah sama sekali tidak
menyenangkan.
Kami berdua
tahu benar kalau teman kami ini tidak bisa naik ke wahana-wahana pacu jantung.
Jadilah rencana yang kami jalankan berhubungan dengan wahana tersebut. Di salah
satu mal di Surabaya menyediakan wahana yang disebut Galleon. Bagi anda yang
pernah ke Dufan di Jakarta, mungkin anda tahu Kora Kora yang berupa perahu
besar yang diayun maju mundur dengan ketinggian dan kecepatan tertentu. Galleon
ini sama persis dengan Kora Kora, hanya ukurannya lebih kecil karena lokasinya
indoor. Namun ayunan dan sensasi yang ditimbulkan cukup menyaingi Kora Kora.
Di hari
yang kami rencanakan, kami berkumpul di salah satu rumah teman. Dari situ teman
kami yang berulang tahun ditutup matanya dengan sapu tangan lalu kami giring ke
mobil. Bersama dua orang teman kami yang lain, kami pun berangkat ke mal yang
dituju. Sepanjang jalan teman kami itu sudah memberian ancaman, “Awas kalau
kalian macem-macem ya!” Namun kami hanya tertawa sambil mengumbar janji palsu
bahwa semua akan baik-baik saja.
Sebelumnya
kami sudah bersekongkol dengan pacar teman kami agar dia menyanggupi untuk
melakukan apa saja agar rencana kami berhasil. Entah nggak sayang pacar atau
habis berantem atau memang dia ingin melihat pacarnya “menderita” sedikit atau
ada alasan lain, dia pun setuju.
Sesampainya
di mal, kami terus menggiring teman kami itu ke arah wahana. Karena mendengar
keadaan sekitar yang berisik, teman kami sadar kalau dia sedang digiring di
mal. Dan tentu saja dengan firasat buruk, dia berteriak, “Asem, kalian bawa aku
naek Galleon ya?!” Karena rencana kami ketahuan, kami pun lantas bilang, “Nggak
papalah... Sekali-sekali ajaaa...”
Sementara
mereka berjalan ke arah wahana, saya berlari mendahului untuk membeli tiket.
Saya langsung beli dua tiket untuk tiap orang. Sampai di depan wahana, penutup
mata lalu kami lepas dan kami pun naik. Kami memaksa teman kami untuk duduk di
paling ujung bersama pacarnya. Karena makin diujung, maka makin terasa
ayunannya. Saya memberikan sepuluh tiket sekaligus dan menyuruh petugas wahana
agar langsung mengoperasikan Galleon tersebut tanpa henti untuk dua kali
permainan.
Sang
petugas pun setuju, dan Galleon mulai beroperasi. Teman kami yang mulai ngeri
lalu menutup muka. Saat ayunan makin keras lagi dan lagi, akhirnya ia berteriak
memaki-maki, “Jancooookkk...” (makian khas Surabaya). Kami yang mendengar
lolongan makian dari ujung satunya tertawa tergelak-gelak. Galleon terus
berayun sampai waktunya habis.
Teman kami pun
turun dengan lemas, wajah pucat, mata berair sehabis menangis dan mulut yang
penuh liur karena saking takutnya. Lalu dia mulai memukuli pacarnya dan
memaki-maki. Seumur hidup mungkin dia tidak akan naik Galleon lagi gara-gara
kami atau seumur hidup dia bakal benci pacarnya gara-gara kejadian ini.
No comments:
Post a Comment