Friday, May 31, 2013

Super Fun Ride



Saya adalah pecinta wahana atau permainan yang bikin jantung copot bagi yang lemah jantung. Otomatis saya menjadi pecinta theme park alias amusement park. Saya suka sekali naik jetcoaster, roller-coaster, atau wahana-wahana lain yang mengandalkan kecepatan, ketinggian, ayunan atau putaran 180° ataupun 360° yang biasanya bikin pusing atau mual atau keduanya. Saat saya mengunjungi area permainan seperti ini, adalah wajib hukumnya untuk mencoba permainan seru tersebut. Dibanding masuk ke rumah hantu yang kerjanya hanya menakut-nakuti orang dan sensasinya juga gitu-gitu aja, saya lebih suka permainan “seram” dalam arti lain.

Suatu saat, salah satu teman dekat saya berulang tahun. Saya dan teman saya yang lain merencanakan untuk memberikan surprise. Tapi surprise yang kami berikan ini mungkin agak tidak menyenangkan bagi dia atau malah sama sekali tidak menyenangkan.

Kami berdua tahu benar kalau teman kami ini tidak bisa naik ke wahana-wahana pacu jantung. Jadilah rencana yang kami jalankan berhubungan dengan wahana tersebut. Di salah satu mal di Surabaya menyediakan wahana yang disebut Galleon. Bagi anda yang pernah ke Dufan di Jakarta, mungkin anda tahu Kora Kora yang berupa perahu besar yang diayun maju mundur dengan ketinggian dan kecepatan tertentu. Galleon ini sama persis dengan Kora Kora, hanya ukurannya lebih kecil karena lokasinya indoor. Namun ayunan dan sensasi yang ditimbulkan cukup menyaingi Kora Kora.

Di hari yang kami rencanakan, kami berkumpul di salah satu rumah teman. Dari situ teman kami yang berulang tahun ditutup matanya dengan sapu tangan lalu kami giring ke mobil. Bersama dua orang teman kami yang lain, kami pun berangkat ke mal yang dituju. Sepanjang jalan teman kami itu sudah memberian ancaman, “Awas kalau kalian macem-macem ya!” Namun kami hanya tertawa sambil mengumbar janji palsu bahwa semua akan baik-baik saja.

Sebelumnya kami sudah bersekongkol dengan pacar teman kami agar dia menyanggupi untuk melakukan apa saja agar rencana kami berhasil. Entah nggak sayang pacar atau habis berantem atau memang dia ingin melihat pacarnya “menderita” sedikit atau ada alasan lain, dia pun setuju.
Sesampainya di mal, kami terus menggiring teman kami itu ke arah wahana. Karena mendengar keadaan sekitar yang berisik, teman kami sadar kalau dia sedang digiring di mal. Dan tentu saja dengan firasat buruk, dia berteriak, “Asem, kalian bawa aku naek Galleon ya?!” Karena rencana kami ketahuan, kami pun lantas bilang, “Nggak papalah... Sekali-sekali ajaaa...”

Sementara mereka berjalan ke arah wahana, saya berlari mendahului untuk membeli tiket. Saya langsung beli dua tiket untuk tiap orang. Sampai di depan wahana, penutup mata lalu kami lepas dan kami pun naik. Kami memaksa teman kami untuk duduk di paling ujung bersama pacarnya. Karena makin diujung, maka makin terasa ayunannya. Saya memberikan sepuluh tiket sekaligus dan menyuruh petugas wahana agar langsung mengoperasikan Galleon tersebut tanpa henti untuk dua kali permainan.

Sang petugas pun setuju, dan Galleon mulai beroperasi. Teman kami yang mulai ngeri lalu menutup muka. Saat ayunan makin keras lagi dan lagi, akhirnya ia berteriak memaki-maki, “Jancooookkk...” (makian khas Surabaya). Kami yang mendengar lolongan makian dari ujung satunya tertawa tergelak-gelak. Galleon terus berayun sampai waktunya habis.
Teman kami pun turun dengan lemas, wajah pucat, mata berair sehabis menangis dan mulut yang penuh liur karena saking takutnya. Lalu dia mulai memukuli pacarnya dan memaki-maki. Seumur hidup mungkin dia tidak akan naik Galleon lagi gara-gara kami atau seumur hidup dia bakal benci pacarnya gara-gara kejadian ini.

No comments:

Post a Comment