Saya menyebut unik, karena kata memalukan, menjijikkan atau ngisin-ngisini,
nggilani (istilah saya) mungkin terlalu gimanaaa gitu. Anything weird can
happen in a club. Saya ingat punya beberapa pengalaman lucu saat di dunia
gemerlap alias dugem atau bahasa
kerennya clubbing. Pernah saya dengan
beberapa teman kuliah pergi mengunjungi salah satu pub di salah satu hotel
berbintang di Surabaya yang pada waktu itu paling happening. Kami menikmati musik, bergoyang kanan kiri mengikuti
lagu di tengah suasana yang hiruk pikuk.
Salah satu teman laki-laki saya pada saat itu membawa teman wanita yang saya tidak kenal entah karena niat PDKT atau yang lain. Karena kami masih kunyuk-kunyuk, kami hanya memesan cocktail dan satu pitcher bir untuk diminum bersama. Jumlah kami sebenarnya cukup banyak yaitu berdelapan. Jadi minuman yang kami pesan dijamin tidak akan bikin mabuk,. Boro-boro mabuk, pusing pun nggak bakalan kecuali kalau memang alergi alkohol.
Nah si
cewek yang teman saya bawa mulai minum dan mulai “menggila”. Dia menari, melenggak
lenggok dengan hot-nya seperti ikan yang menggelepar di daratan kering tanpa
air. Bahkan kemben yang dipakainya melorot. Teman-teman saya laki-laki sih
pasti happy happy saja disuguhi tontonan gratis dan menarik. Akhirnya salah satu
teman saya berinisiatif memegangi cewek itu agar nggak keleleran kemana-mana. Tapi saat dipegangi, dia malah makin
menjadi. Bolak-balik teman saya hampir ikut ndelosor
karena tiba-tiba cewek itu mau jatuh.
Saya yang
melihat semua runtutan kejadian itu cuma bisa melongo dan berpikir, “Nih cewek kenapa sih? Kok heboh banget.”
Salah satu teman saya seperti membaca pikiran saya lalu berbisik, “Katanya
cewek ini biasa ke diskotik pake ineks, biasa gedhek. Katanya sih kalau biasa ngineks,
nggak kuat minum.” Saya hanya manggut-manggut dapat informasi baru seperti itu.
Selang
beberapa saat, cewek itu rupanya mau ke kamar kecil. Akhirnya saya dan salah
satu teman cewek saya pun menemani. Solidaritas cewek, begitu istilahnya. Kami
berdua memegang lengan cewek itu erat-erat, karena kami sudah melihat dia
bolak-balik mau jatuh dan benar dia terseok-seok. Saya berpikir, “Wah cewek ini pasti mabuk berat.” Tapi
anehnya, seok-seok cewek ini hanya berlangsung saat kami masih dalam jangkauan
pengelihatan teman laki-laki saya. Begitu kami cukup jauh dan pintu kamar kecil
hanya berjarak 5 meter, dia langsung berdiri tegak dan berkata, “Nggak papa
kok. Bisa sendiri.”
Mulanya
saya pikir dia merasa sungkan karena harus merepotkan kami. Jadi kami pun tetap
ikut masuk ke dalam, membuntuti cewek ini. Namun ternyata kata-kata yang dia
ucapkan memang benar terjadi. Dia berjalan lurus (tanpa terseok-seok) dan
sukses masuk ke salah satu bilik dan seterusnya, beraktifitas sendiri tanpa
bantuan kami. Kami pun saling berpandang-pandangan. Dengan telepati kami saring
mengirim pesan, “Cewek ini ternyata cuma
pura-pura. Pura-pura teler ato gimana
sih?” Karena merasa ditipu, kami berdua langsung keluar dengan sebal.
Amit-amit deh, ternyata cuma mau akting buat dapet perhatian para cowok.
Harusnya kalau memang niat ya jangan terang-terangan berhenti pas di depan kita
para cewek. Kan kita malah jadi sadar sama motifnya. Duhhhh... najissssss....

No comments:
Post a Comment