Suatu kali,
di perjalanan kembali ke kampung halaman, saya pulang dengan menggunakan van
alias travel. Agak lucu kalau dipikir kenapa tranportasi ini disebut travel.
Pernah satu kali teman saya dari Malaysia bingung saat saya menyebut travel, “What is that?” Untungnya kami pernah
bepergian ke Thailand menggunakan transportasi serupa. Jadi saya langsung
menjawab, “You usually call it as van
hahaha...”
Saat itu,
saya adalah penumpang pertama yang dijemput. Saya ini tipe orang yang
seringkali “terganggu” dengan selera orang lain yang menurut saya nyeleneh. Lalu kami sampai pada
penjemputan penumpang ketiga. Seorang cowok, agak chubby tapi terlihat rapi dan
sepertinya cukup ramah. Karena begitu supir travel turun untuk membantu cowok
ini naik ke mobil, dia langsung cas cis cus menyerocos. Dia duduk tepat di
depan bangku saya. You know what happen?
His perfume oh my goshhhh... Kalau bagi saya sih itu bukan tergolong parfum
tapi minyak kenyongnyong. Bagi yang tidak tahu apa itu minyak nyongnyong, terus
terang saya juga bingung mengartikannya dengan bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Pokoknya baunya super wangi, super menyengat, langsung memenuhi mobil
dan bikin mual. Nah mungkin dengan deskripsi seperti ini, anda sekalian tahu
apa maksud saya.
Kebetulan
sudah beberapa hari perut saya agak kurang beres, kembung yang nggak jelas.
Ditambah lagi supir travel hari itu, meskipun orangnya sabar dan sumringah, tapi cara menyetirnya ampun-ampun,
tipe driver yang saya paling benci.
Suka gas pol lalu mendadak dilepas tanpa tedeng aling-aling, ngerem suka
mendadak, pokoknya ramuan komplit yang bikin saya tambah mual. Sepanjang jalan
saya cuma bisa berdoa agar saya nggak muntah sambil mengusap minyak kayu putih
dan mengunyah permen mint.
Dengan
masuknya penumpang “menyengat” ini, mual saya makin menjadi. Saya terus-terusan
menghela nafas, berharap baunya cepat hilang walau itu tidak mungkin. Kalau
dilihat dari daya jangkau dan daya tahannya, kemungkinan cowok tersebut habis
separuh botol parfum, alamakk... Mungkin dia salah satu stockist parfum.
Lalu mobil
pun melaju ke destinasi selanjutnya untuk menjemput penumpang keempat. Kali ini
kami memasuki kawasan universitas saya dulu. Travel pun akhirnya berhenti di
alamat yang dituju, lagi-lagi penumpang cowok, anak kuliahan yang masih
“sinyo-sinyo”. Dia lalu masuk ke mobil dan duduk di deret yang sama dengan
cowok “menyengat” tadi. Apa yang terjadi? Same
thing happened. Lagi-lagi bau parfum. Tapi kali ini bukan minyak
kenyongnyong yang tercium hidung saya, melainkan parfum beneran hahaha...
Baunya sangat fresh dan yang paling penting nggak bikin mual. Syukurlah bau
“menyengat” tadi mulai pudar. Mungkin “kalah hawa” dengan parfum yang kelasnya
lebih atas.
Mulailah
saya berpikir, apa jenis orang menentukan selera ya? Memang cowok “menyengat”
itu belum terlalu tua tapi dandanannya sudah lebih bapak-bapak. Sedangkan si
“sinyo” jelas lebih muda dan lebih keren. Yang saya nggak habis pikir, pada
waktu beli parfum tuh apa sih yang dipikir cowok “menyengat” itu? Waktu dia
dengan semangatnya menyemprotkan parfum
seluruh badan, apa hidungnya sendiri nggak terganggu? Kok bisa tahan
gitu lho?
Jadilah
saya menarik kesimpulan, memang beda usia beda selera, tapi saya sendiri yang
sudah mulai tua nggak merasa demikian lho. Mungkin karena saya masih terus
berjiwa muda haha... Beda ras, beda warna kulit, beda duit juga menentukan
selera. Bukannya saya rasis, ini cuma penilaian asal lewat. Ah, tapi kalau
urusan duit, parfum murah juga ada yang baunya enak kok. Memang selera,
kualitas dan keahlian hidung masing-masing yang menentukan :)
milih bau badan atau bau minyak nyong2 hayooo =V
ReplyDeletewuakakaka...masuk akal..tapi nggak dua2nya dehhh :D
ReplyDelete